-->
Showing posts with label desa wisata. Show all posts
Showing posts with label desa wisata. Show all posts

desa wisata

Pemandian Sumber Waras Banyuwangi - Waterpark Sejuk Di Tengah Pedesaan     Edit

Main air memang menyenangkan, apalagi airnya berasal dari Sumber Air dalam tanah sehingga airnya dingin dan terasa menyegarkan. Setelah sendang seruni, saya mencari lagi tempat bermain air dan mandi di alam yang menyenangkan. Saya mendapatkan ada Waterpark Baru di Tengah Pedesaan di daerah Glagah bernama Waterpark Sumber Waras.

Waterpark Sumber Waras atau lebih dikenal Pemandian Sumber Waras terletak di Desa Gadog, Kecamatan Tamansuruh, Kabupaten Banyuwangi. Walau lokasinya di tengah desa, pemandian Sumber Waras ini berbeda dengan Pemandian Alam Banyuwangi lainnya karena sudah semi modern hingga pengelola memberi nama lain sebagai Waterpark Sumber Waras.

Rute menuju Waterpark Pemandian Sumber Waras
Gapura masuk ke Sumber Waras di Desa Gadog
Menuju Waterpark/Pemandian Sumberwaras dari Kota Banyuwangi cukup mudah kalian tinggal arahkan kendaraan menuju ke arah Barat menuju Desa Kemiren lalu melewati Warung Kemarang dan pertigaan kedua setelah Warung Kemarang ambil ke kanan. Ikuti jalan tersebut melewati Desa Mondoluko dan memasuki gapura desa Gadog. Ikuti jalan saja hingga menemukan baliho petunjuk jalan Waterpark Sumber Waras di pertigaan, ambil ke kanan memasuki gapura bambu ke arah bawah. Kalian akan sampai di parkiran Waterpark Sumber Waras. Kalian hanya tinggal membayar Rp. 5.000 untuk memasuki Waterpark tersebut.

kolam anak-anak di Pemandian Sumber Waras
Lokasinya sejuk, berada di tengah-tengah kebun atau mungkin hutan desa Gadog yang masih rimbun dengan pepohonan sehingga disini masih bisa ditemukan kicau-kicau burung apalagi jika kalian datang pagi atau sore hari. Ada dua kolam di Waterpark ini yaitu pemandian anak-anak yang letaknya dekat pintu masuk. Kolamnya cukup teduh karena berada dibawah naungan beberapa pohon besar disana. Kedalaman kolam anak-anak ini sekitar selutut orang dewasa. Pada Kolam Anak Kecil juga terdapat wahana permainan prosotan khas waterpark pada umumnya. Pada kolam dewasa berada tengah-tengah area Waterpark dengan lantai kolam dominan berwarna putih dan krem terlihat cukup mencolok. Kolam renang dewasa ini mulai dari 1 meter hingga 2 meter. Bagi yang tidak bisa berenang jangan mendekat ke area dua meter. Untuk area dewasa ini kalian juga bisa sewa pelampung atau ban seharga 10.000 untuk pelampung yang dua lubang dan 5.000 untuk pelampung dengan 1 lubang.
Kolam Renang Dewasa di Pemandian Sumber Waras
Di dekat kolam renang ada tempat santai berupa meja kursi yang dibawahnya terdapat kolam yang kedalamannya sedikit diatas mata kaki. Jadi duduk disana serasa sedang bermain air juga karena kaki kita basah. Katanya kolam tersebut di rencananya akan dikasih ikan. Bisa sekalian terapi ikan dong nanti hehe. Jika ingin duduk tidak basah kalian bisa duduk di kursi dari semen di sisi kolam juga bisa duduk di bale santai yang di bangun sekitar kolam. Air yang ada di kolam dewasa, kolam anak-anak dan kolam untuk duduk bersantai airnya selalu mengalir karena berasal dari sumber air dari dalam tanah yang ada di atas bukit dekat dengan Waterpark atau Pemandian Sumber Waras ini. Airnya muncul dari bawah tanah dengan debit air yang cukup banyak sepanjang tahun.

Sejarah dan Cerita Dahulu Tentang Sumber Waras
Sumber Air ini dulu bernama Sumber Domyong karena disekitar mata air tersebut ada Pohon Domyong. Pohon Dompyong juga dikenal dengan pohon Gowok atau Kepa ini merupakan pohon buah yang buahnya dulu sering ditemukan di pasar. Namun Domyong sendiri juga disukai kelelawar sehingga kadang sebelum buah Dompyong masak siap petik sudah banyak dimakan  kelelawar. Seiring berjalannya waktu, sumber tersebut sering digunakan warga setempat untuk kebutuhan sehari-harinya termasuk juga mandi. Warga setempat meyakini bahwa mandi setelah subuh di sumber tersebut dapat menyembuhkan penyakit (Waras) sehingga lama kelamaan nama Sumber Dompyong berubah menjadi Sumber Waras.

Meja Kursi di dalam kolam
Fasilitas di Pemandian Sumbe Waras bisa dibilang lengkap. Terdapat beberapa kamar mandi untuk tempat bilas namun jumlahnya masih terbatas, resto dan kafetaria  bagi pengunjung yang ingin memesan makanan dan minuman. Harga makanan dan minuman pun bisa terbilang murah berkisar antara 5.000 hingga 15.000 mulai dr jajanan pasar seperti kucur, gorengan, nasi bungkus, jamur krispi hingga mie instan yang memang cocok dimakan setelah kedinginan berenang. Terdapat juga beberapa kamar penginapan dengan bangunan dari kayu namun untuk saat ini masih belum dibuka untuk umum.
Suasana Sejuk di sekitar Pemandian Sumber Waras
Waterpark Sumber Waras ini buka pagi hari jam 07.00, saat baru buka keadaan masih sepi dan airnya masih cukup dingin hehe, namun sangat cocok bagi kalian yang tidak ingin ketemu keramaian saat berenang apalagi di era covid-19 Renang punya resiko penularan yang lumayan. Saat berkunjung kesini, kita harus tetap menjaga kebersihan dengan membuang sampah pada tempat yang sudah disediakan oleh pengelola ya :)

Video Rute Perjalanan Ke Sumber Waras dan Penampakan Kolam Renangnay bisa dilihat di Video ini: 

Wisata dan Kuliner Menarik Di Sekitar Taman Nasional Baluran     Edit

Ada apa saja di Sekitar Baluran
Sering kali ditanya, kalau main ke Taman Nasional Baluran, apa aja yang bisa dicoba dan dilihat searah ke Baluran. Dulu jawabannya cuma dua, bisa sekalian mampir ke Waduk Bajulmati dan Pantai Bunder Bangsring. Ternyata setelah menelusuri di daerah sana ada banyak hal menarik yang ada di Sekitar dan searah menuju Taman Nasional Baluran.

1.  Pantai Pandean dan Perengan
Salah satu pantai yang berbatasan langsung dengan Kawasan Taman Nasional Baluran. Pantai ini berada di sebelah selatan Baluran tepatnya di desa “Kebangsaan” Wonorejo, Kecamatan Banyuputih, SItubondo. Pantai ini merupakan pantai nelayan dimana kalian bisa melihat aktivitas nelayan dan kapal-kapal nelayan. Kapal-kapalnya pun beragam, mulai dari Jukung hingga kapal Slerek dengan bentuk seperti bulan sabit dan bercorak khas. Di pantai ini kalian bisa melihat pesona Gunung Baluran dari tepian pantai juga bisa melihat indahnya matahari terbit di laut karena pantai ini menghadap ke arah timur. Selain itu, di dekat pos jaga terdapat taman baca yang sering digunakan anak-anak untuk belajar dan membaca koleksi buku yang ada di sana.

2. Perkebunan Pasewaran
Perkebunan Pasewaran merupakan perkebunan PTPN XII yang terletak di wilayah Banyuwangi tepatnta di Desa Watukebo Kecamatan Wongsorejo. Walau dari peta Gmaps terlihat dekat namun dari Baluran ke Perkebunan Pasewaran memakan waktu sekitar 45 menit karena setengah jalan menuju ke Perkebunan masih rusak (aspalnya rusak bolong-bolong). Setelah melewati desa terakhir kita akan memasuki lorong hutan mahoni dahulu lalu akan sampai di Perkebunan Pasewaran yang punya julukan The Secret Garden. Memang benar-benar kebun tersembunyi dibalik rimbunnya hutan. Di dalam komplek perkebunan ini terdapat pohon raksasa Trembesi yang umurnya lebih dari 300 tahun, bisa dibilang sama umurnya hampir sama seperti Pohon Trembesi di Hutan Djawatan Benculuk. Disini juga bisa melihat perkebunan karet dimana pada pohon karet tersebut digantung kotak-kotak rumah lebah untuk berternak lebah madu yang sari madunya berasal dari bunga karet. Selain itu, hal menarik yang saya lihat adalah Rumah-rumah bergaya belanda dan ada sistem pengairan perkebunan pada masa Penjajahan Belanda yang masih digunakan sampai sekarang. Oh iya tempat penampungan ini pernah viral di twitter karena diduga adalah sendang yang disebutkan dalam kisah KKN Desa Penari, ternyata itu adalah bak penampungan yang sekarang digunakan untuk wisata sebagai kolam renang yang punya pemandangan menikmati laut dari kejauhan, jika cuaca disana tidak berkabut.

3. Air Terjun Selotirto
Air Terjun Selotirto ini searah dengan perkebunan Pasewaran. Sebelum masuk komplek perkebunan Pasewaran ada jalan setapak kecil di kanan jalan, tempat tersebut merupakan lokasi parkir penitipan kendaraan yang kini menjadi kebun karena air terjun Selogiri sudah sepi pengunjung sehingga tidak terawat. Dari parkiran kendaraan kita tinggal menyelusuri tangga dan jalan setapak menuruni jurang yang tidak terjal. Saat jalan turun, sudah terdengar suara-suara gemerincik sungai dan suara air terjun yang gemuruhnya cukup kuat terdengar. Air Terjunnya cukup tinggi, kemungkinan lebih dari 15 meter. Airnya mengalir sepanjang tahun karena berasal dari sumber air lansung.

Waduk Bajulmati musim kemarau
Letaknya berada setelah melewati gerbang depan Baluran ke arah Situbondo (arah utara) nanti di kanan jalan akan ada gapura Waduk Bajulmati dan Patung Penari khas Banyuwangi dan Situbondo karena Waduk ini terletak di daerah perbatasan Banyuwangi dan Situbondo. Ada yang bilang Waduk ini dibilang Raja Ampat KW karena mirip dengan Raja Ampat dika dilihat dari titik tertentu, ada juga yang bilang mirip danau Sentani yang ada di Papua. Waduk Bajulmati ini dibuat selain PLTA juga sebagai cadangan air yang dialirkan untuk para petani di sekitar saat musim kemarau tiba.

5. Sego Rujak Wongsorejo
Kalau Rujak Soto mungkin bagi sebagian orang yang beberapa kali ke Banyuwangi sudah biasa, bagaimana jika Sego Rujak. Nasi Rujak atau Sego Rujak ini bisa dibilang kuliner unik di Wongsorejo, karena hanya bisa ditemukan disini saja. Warungnya sederhana namun sering sekali ramai yang datang membeli. Rujak racikan Bik Ning terlihat sederhana, campuran Jantung Pisang, Ote-ote (Bakwan),nasi dan kerupuk warna warni diaduk didalam cobek yang sudah diracik terlebih dahulu. Setelah itu dihidangkan di dalam piring. Tak lupa diberi sedikit petis Madura berwarna pink di tepi piring. Petis ini nantinya menambah rasa dari Nasi Rujak. Harganya murah, mulai dari 5.000 dan makin mahal jika kalian mengambil lauk tambahan. Buka mulai jam 6 pagi dan sekitar jam 10 pagi biasanya sudah habis.

6. Pantai dan Hutan Mangrove Bengkak
Masih di Kecamatan Wongsorejo, tepatnya di Desa Bengkak, terdapat hutan mangrove dan pantai dengan panorama Selat Bali dan Gunung Baluran yang terlihat jelas. Mangrove ini tumbuh di rawa-rawa payau di pinggir pantai, airnya merupakan air laut yang terjebak masuk ke rawa saat pasang dan tidak bisa kembali lagi ke laut.  Wisata pendidikan cocok sekali dikembangkan di Hutan Mangrove Center Bengkak selain dijadikan tempat wisata selfie semata. Sehingga pengunjung yang berwisata kemari tidak hanya menyegarkan pikiran dan hilangkan kepenatan, juga mendapatkan ilmu dan pengalaman baru.

Biasanya wisatawan mampir kesini untuk sekedar makan, melihat rumah apung dan panorama selat Bali dan snorkeling melihat hasil penanaman terumbu karang nelayan-nelayan kelompok bunder ini. Spot Snorkelingnya ada banyak, kita tingga mengikuti rute tali yang sudah dipasangkan oleh pengelola. Di Rumah Apung yang berada di tengah laut, terdapat penangkaran ikan hiu yang pernah terjerat oleh jaring nelayan. Ikan hiu tersebut dirawat terlebih dahulu disana sebelum kembali dilepaskan kembali di laut. Dari Pantai Bunder Bangsring ini kita bisa melanjutkan perjalanan juga ke Pulau Tabuhan dan menjangan.

Pulau Tabuhan adalah pulau kecil berada di tengah perairan Selat Bali, untuk menuju kesana wisatawan bisa memilih 3 lokasi keberangkatan yaitu dari Pantai Grand Watudodol, Pantai Bunder Bangsring, dan Pantai Kampe. Harga sewa kapalnya untuk 1 kapal sebesar Rp. 500.000 yang bisa diisi 8 orang. Pulau Tabuhan merupakan pulau berpasir putih yang tidak ada pohon peneduh sama sekali, kalau datang weekend biasanya ada penjual makanan dan minuman yang tempatnya bisa dibuat sebagai tempat berteduh.

List Ada Apa Saja Di Sekitar Baluran ini akan bertambah lagi, jika saya menemukan suatu yang menarik di sekitar Baluran. Kalau ada waktu ngetrip ke Banyuwangi cobain main sebentar atau cicip kuliner yang ada di sekitar Baluran ini :)

Kampung Ikan Kluncing, Kampung Wisata Edukasi di Banyuwangi     Edit



Di kaki Gunung Ranti dan Kawah Ijen, terdapat sebuah dusun yang diberi nama Kampung Ikan. Disebut Kampung Ikan karena disana merupakan kampung peternak ikan air tawar sejak dahulu. Bagaimana tidak, kondisi alam kampung ikan mendukung sekali karena ada air jernih yang mengalir setiap waktu sehingga ikan yang diternakan bisa tumbuh dengan baik.

Kampung Ikan ini berhasil membuat orang-orang penasaran karena warga kampung ikan memelihara ikan di saluran irigasi persawahan yang melewati kampungnya. Belum lagi inovasi menggabungkan pertanian sawah dengan peternakan ikan air tawar. Satu lahan bisa dapat dua keuntungan.


Rute Menuju Kampung Ikan Dari Banyuwangi Kota
Kampung Ikan ini berada di Desa Kluncing, Kecamatan Licin, Banyuwangi. Berada persis di pinggir jalan alternatif dari Rogojampi menuju Kawah Ijen lewat Pakel. Untuk menuju Kampung Ikan Banyuwangi ini cukup mudah kok. Dari Kota Banyuwangi kalian tinggal ambil arah menuju Kawah Ijen melewati Desa Olehsari-Desa Glagah lalu sampai di pertigaan pasar Licin ambil ke kiri menuju Desa Segobang. Di Desa Segobang Jalan berkelok dan naik turun, kita perlu hati-hati disini. Setelah melewati desa Segobang akan masuk desa Kluncing dan Kampung Ikan berada di kanan jalan dekat dengan Balai Desa Kluncing.  

Pemandangan Di Desa Kluncing, terlihat Gunung Pendil
Sampai di Kampung Ikan saya langsung menuju saluran irigasi dengan menyelusuri tangga turun di kampung ikan. Air irigasinya bening sekali, cukup sejuk dan di tepian saluran ada kotak bambu yang di dalamnya ada ikan-ikan peliharaan milik warga kampung ikan. Ikan tersebut ada yang masih bibit beberapa ada yang ukurannya cukup besar. Ikan di dalam kotak tersebut nantinya bisa dibeli oleh pengunjung yang tertarik untuk membawa ikannya. Di saluran air irigasi, ditaruh indukan dari Ikan Koi dan Tombro sebagai daya tarik dan ciri khas dari Kampung Ikan Kluncing, Banyuwangi. Selain Ikan Koi dan Tombro, masyarakat kampung ikan juga memelihara Ikan Mas, Nila, Bawal dan Lele.

membersihkan ikan dari jamur
Kata warga kampung ikan, dulu saluran irigasi ini kotor sekali. Limbah rumah tangga dan kotoran menumpuk disana dan menimbulkan bau yang tidak sedap. Mulai dari keprihatinan dari hal tersebut, warga setempat mulai membersihkan saluran irigasi tersebut menjadi bersih kembali, setelah bersih lalu menaruh bibit dan indukan ikan di saluran irigasi tersebut. Dilakukan hal tersebut agar membuat perubahan perilaku untuk tidak membuang sampah dan kotoran sembarangan kembali dan sama-sama menjaga kebersihan saluran irigasi tersebut.

Minapadi di Desa Kluncing, Banyuwangi
Selain itu, mereka juga melakukan budidaya ikan yang dikombinasikan dengan peternakan ikan (Pertanian Minapadi). Bibit ikan yang dipindahkan dan dipelihara di area persawahan hanya yang sudah berumur 1 bulan. Pertanian Minapadi ini menguntungkan karena petani bisa mendapatkan hasil lebih dari penjualan ikan dan mendapatkan pupuk gratis dari kotoran ikan yang ada di sawah mereka. Penggunaan sistem minapadi otomatis membuat sistem pertanian mereka juga organik dengan tidak menggunakan bahan kimia sehingga harga padi mereka bisa meningkat.

pengunjung memberi makan indukan ikan
Tidak hanya padi dan ikan. Di Kampung Ikan juga terdapat budidaya tanaman Genjer yang biasa mereka jual di Pasar Rogojampi. Genjer ini biasanya dimasak oseng-oseng oleh warga setempat. Berdekatan dengan hutan sehingga disini juga ada petani pohon aren yang hasil air niranya diolah menjadi gula aren dan Sajeng (bahasa osing) atau lebih dikenal Legen. Di dekat kampung ikan juga ada beberapa air terjun. Saya sempat mengunjungi salah satu air terjun yaitu Air Terjun yang letaknya hanya 20 menit jalan kaki dari Kampung Ikan. Namanya Air Terjun Idris atau masyarakat lokal menyebutnya Grujugan Idris. Tulisan tentang Air Terjun Idris bisa dibaca disini (klik) > Air Terjun Idris 

Air Terjun di Desa Kluncing
Kampung Ikan di Desa Kluncing, Banyuwangi ini sangat menarik dan banyak potensi-potensi wisata edukasi tentang alam yang perlu banyak digali. Beberapa bulan kedepan desa ini sudah mulai berbenah dan siap menjadi wisata Edukasi baru di Banyuwangi.

Kalau sedang berada di Banyuwangi coba sempatkan mampir ke Kampung Ikan Kluncing ya.

Pasar Wit-Witan - Pasar Di Pinggir Hutan Kecilnya Alas Malang, Banyuwangi     Edit

Pasar Wit-Witan Desa Alas Malang Kecamatan Singojuruh

Hari minggu pagi di Banyuwangi, tiba-tiba saya ingin sarapan yang agak beda dari biasanya. Biasanya sih nyari sarapan di Pasar Minggu Pagi Desa Kemiren atau beli Nasi Uduk Jakarta di dekat Pelabuhan Ketapang. Kali ini saya pergi ke daerah Singojuruh tepatnya di Desa Alas Malang yang terkenal dengan Adat Kebo-keboannya. Di Desa tersebut ada sebuah pasar yang unik. Pasar ditengah kebun kecil. Dibawah pohonnya banyak orang berjualan makanan siap santap. Pasar tersebut bernama Pasar Wit-Witan.

Situasi Pasar Wit-Witan
Pasar Wit-Witan ini adalah pasar yang baru saja dibuka setelah munculnya pasar-pasar kekinian di Banyuwangi seperti Pasar Ketupat Boyolangu, Pasar Jajanan Pasar Khas Osing Kemiren dan lain-lainnya. Sama seperti pasar kekinian lainnya, pasar ini hanya buka di hari tertentu saja, setiap hari Minggu pagi mulai jam 6.30 sampai 9.30. Sesuai namanya para penjual dan penjaja makanan di Pasar Wit-Witan berjualan dibawah pohon-pohon dalam kebun kecil.

Rute Menuju Pasar Wit-Witan dari Kota Banyuwangi


Pasar Wit-Witan berada di Desa Alas Malang, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi. Letaknya sekita 16 km dari pusat kota Banyuwangi atau kalau naik motor kesini sekitar 20-30 menit. Rute menuju Pasar Wit-Witan ini gampang kok. Dari kota Banyuwangi ambil arah ke Rogojampi pertigaan tugu Adipura ambil ke kanan lalu ikuti jalan tersebut sampai ketemu perempatan patung Kebo-keboan. Ambil ke arah kanan, ikuti jalan tersebut, Pasar Wit-Witan berada di sebelah kiri jalan tidak jauh dari perempatan patung kebo-keboan alas malang. Tidak ada transportasi umum menuju kesini ya.

Bu Tin, Penjual dan Pembuat Makanan Geseng
Mas Mamet, Rawon Racikannya enak loh
Berangkat dari Banyuwangi jam 6.00 pagi, sampai sana suasana pasar sudah ramai. Saya mulai memutari pasar terlebih dahulu melihat-lihat membeli makanan apa untuk sarapan. Kebunnya terlihat sekilas seperti hutan, apalagi sisi selatannya tumbuh pohon agak lebat dan terdapat sungai kecil. Penjual menggunakan pakaian tradisional dengan pakaian berwarna hitam dan bawahan batik. Rasanya sekilas membawa saya pada gambaran pasar-pasar jaman dulu saat era kerajaan. Walau tempatnya di pinggir hutan dan kebun kecil, penjual di Pasar Wit-Witan ini menempati area yang agak terbuka sehingga pembeli leluasa berjalan kesana kemari. Cara jualannya unik, meja untuk menjajakan makanan terbuat dari bambu. Kursi-kursi untuk menyantap makanan yang dibeli pun demikian, tersebar di beberapa titik di pasar wit-witan ini, beberapa kursi berada berdekatan atau di depan pedagang makanannya.

Jajanan pasar yang dijual, Kue Kucur (cucur)
Kursi Bambu untuk menyantap makanan dan minuman yang sudah dibeli
Makanan yang dijajakan juga menarik, karena banyak menjual jajanan pasar tradsional seperti lupis, getuk, kucur, ketan goreng dan gorengan lainnya. Bisa ditemukan juga makanan modern seperti martabak telur dan martabak terang bulan. Untuk makanan beratnya juga beragam dari nasi pecel, nasi kuning, nasi rawon dan yang menarik disini ada penjual Geseng Mentok dan Bangsong yang mana kuliner ini merupakan kuliner khas Singojuruh yang dulunya hanya dibuat untuk Hari Raya saja. 

Pembeli sedang membeli es tradisional
Untuk Minuman ada beberapa yang menarik yaitu es campur yang dijual di area tengah pasar. Ada toping bola berwarna ungu yang setelah saya tanya terbuat dari telo ungu. Disini juga mudah ditemukan minuman temulawak dan jamu yang diracik oleh warga setempat. Tidak hanya menjual makanan dan minuman, UKM kerajinan tangan yang ada di Kecamatan SIngojuruh turut hadir meramaikan, rata-rata adalah kerajinan dari kayu/sisa kayu yang dibuat menjadi perabotan dan yang menarik perhatian adalah jam tangan.

Hutan kecil dekat dengan Pasar Wit-Witan
Letak Pasarnya menurut saya cukup strategis, setelah sarapan di Pasar Wit-Witan, jika kalian wisatawan kalian bisa melanjutkan perjalanan ke Djawatan Benculuk, Pulau Merah dan Alas Purwo. Jika kea rah barat kalian bisa berkeliling menjelajahi wisata alamnya Songgon. Pasar Wit-Witan ini hanya buka di Hari Minggu Pagi mulai pukul 06.30 sampai 09.30. Jadi jangan sampai datang kesiangan ya, nanti makanan/minuman yang sudah kalian incar keburu habis :D.

Nonton Videonya disini ya




Sehari di Desa Adat Suku Osing Kemiren Banyuwangi – Melihat Prosesi Adat Tumpeng Sewu 2019     Edit


Tiap manusia punya cara-cara tersendiri untuk bersyukur. Masyarakat Suku Osing di Desa Kemiren Banyuwangi punya hajat Syukuran Desa yang menarik tiap tanggal 1 Bulan Haji dalam Kalender Jawa atau tanggal 1 Dzulhijjah dalam Kalender Islam. Nama syukuran desanya adalah Tumpeng Sewu.

Kenapa Tumpeng Sewu?
Dalam syukuran tersebut, setiap masyarakat Kemiren membuat tumpengan. Jika melihat data, sudah ada 3.000 kepala keluarga di Desa Kemiren, sudah bisa dipastikan akan ada lebih dari seribu tumpeng yang ada, sehingga prosesi ungkapan rasa syukur Desa Kemiren ini disebut Tumpeng Sewu. Ada hal unik lagi selain jumlah tumpengnya. Lauk yang disajikan dalam syukuran ini yaitu Pecel Pitik, makanan otentik dari suku osing yang berbahan utama ayam kampung dan parutan kelapa. Selain itu, mereka akan makan bersama di depan rumahnya, di pinggir jalan secara lesehan dan menyalakan obor yang menambah syahdu suasana syukuran di desa Kemiren.  

Seharian Di Desa Adat Suku Osing Kemiren
Setelah tahu, Di Desa Kemiren akan ada Syukuran Desa Tumpeng Sewu, saya meluangkan waktu dan mengajak beberapa teman yang suka sama acara desa. Dini, teman dari Semarang yang kebetulan ada di Jember bisa ikut untuk melihat-lihat prosesi adat Tumpeng Sewu. Untuk melihat prosesi adat Tumpeng Sewu, kita butuh meluangkan waktu seharian di Desa Kemiren.

Mepe Kasur atau Jemur Kasur
Pagi hari, masyarakat desa Kemiren sibuk mengeluarkan kasur untuk dijemur. Yah mumpung cerah juga sih. Uniknya kasur yang mereka jemur itu satu ragam, kasur kapuk berwarna merah hitam. Kasur tersebut ternyata wajib dimiliki oleh setiap keluarga karena memiliki arti khusus merah melambangkan keberanian dalam berkeluarga dan hitam berarti hidup kelanggengan dalam rumah tangga. Bantal berwarna merah dan dijahit dengan benang berwarna putih juga punya arti sendiri. Merah, darah merah dari ibu. Putih, darah putih dari bapak. Menjemur kasur yang dilakukan masyarakat osing di desa Kemiren melambangkan bersih keluarga. Sambil dijemur, kasur digebuk berharap aura tidak baik yang ada dalam keluarga hilang bersama kasur tersebut digebuk dan dijemur. Prosesi jemur kasur ini mereka sebut Mepe Kasur.

Bapak Abdul Karim dan Dini
Bersamaan dengan Mepe Kasur (Jemur Kasur), atap dapur dari beberapa rumah terlihat mengeluarkan asap karena sedang memanggang ayam untuk dijadikan Pecel Pitik, yang nantinya dihidangkan di syukuran Tumpeng Sewu. Kami mampir ke dapur milik pak Abdul Karim. Saat kami kunjungi beliau sedang membakar ayam kampung cukup banyak bersama istrinya. Pak Karim ini membuka jasa pembakaran ayam untuk diolah nantinya menjadi pecel pitik. Cara pembakarannya sederhana, hanya menggunakan tungku kecil dan berbahan bakar dari kayu bakar saja. Walau sederhana, proses pemanggangannya harus teliti agar didapat ayam yang terpanggang sempurna. Bahkan ada waktu ayam tersebut dimasukan ke dalam tungku yang bara apinya masih menyala agar sisi yang belum terpanggang ikut matang. Pak Karim ini membuka jasa pemanggangan ayam untuk prosesi tumpeng sewu, dan pada jam 9 pagi sudah dapat permintaan untuk memanggang 125 ekor ayam. Jumlah permintaan tersebut bertambah terus sampai sore hari. Memanggang 1 ekor ayam dihargai sebesar Rp.10.000 itu sudah termasuk memotong ayam hingga pemanggangan.

Memarut Kelapa untuk Bumbu
Untuk menjadikan pecel pitik, ayam yang sudah dipanggang nantinya akan disuwir-suwir dan dicampur parutan kelapa yang sudah dibumbui. Namun proses ini biasanya berlangsung sore hari menjelang acara prosesi syukuran Tumpang Sewu dimulai. Sambil menunggu proses itu kami mengisi waktu luang makan Nasi Tempong Wader Warung Putuk dan ke Air Terjun Jagir untuk mensucikan diri karena kami belum sempat mandi :D. Air Terjun Jagir letaknya cukup dekat dari desa Kemiren, sekitar 15 menit ke arah barat.

Sore Hari Di Kemiren
Ayam yang sudah dipanggang diaduk bersama parutan kelapa yang sudah dibumbui
Sekitar jam 4 sore, kami kembali ke Desa Kemiren untuk mengikuti syukuran bersama dengan warga desa. Jalan-jalan di desa sudah ramai, rasannya seperti nuansa lebaran dimana sanak saudara kembali kumpul datang ke desa untuk mengikuti syukuran desa. Kasur khas merah-hitam yang dijemur sudah berganti tikar. Terlihat beberapa pemilik rumah juga sibuk mengeluarkan Tumpengan beserta lauk pauk yang salah satunya adalah pecel pitik. Ada juga yang sengaja meracik pecel pitiknya di pinggir jalan, sehingga jika ada wisatawan seperti saya yang datang bisa melihat cara pembuatan pecel pitik. Menarik memang, ayam yang sudah dipanggang dipotong-potong menggunakan tangan lalu ditaruh dalam wadah yang didalamnya parutan kelapa yang sudah dibumbui khusus. Wadah tersebut diaduk dan diberi air sedikit agar parutan kelapa bisa menempel pada ayam panggang.

Berkumpul bersama sanak saudara
Saat menjelang magrib, masyarakat desa kemiren sudah berkumpul depan rumah dan pinggir ruas jalan utama, hidangan Tumpeng Sewu sudah lengkap. Saya menelusuri ruas jalan utama desa Kemiren dan menemukan keramahan masyarakatnya. Bahkan beberapa kali memepersilahkan mampir ke tempatnya untuk makan pecel pitik bersama.

Pawai Barong Kemiren
Menunggu berdoa
Setelah solat magrib, Barong Banyuwangi melakukan pawai yang diikuti oleh pemuda yang membawa bara api untuk menyalakan oncor (obor) yang ada di depan setiap rumah. Suasana desa mendadak menyala hangat, beberapa anak kecil langsung antusias mendekati oncor yang sudah menyala. Doa lalu berkumandang dari toa masjid untuk memimpin doa-doa ungkapan rasa sukur selama setahun yang diberikan Tuhan kepada masyarakat kemiren. Dan selesainya doa, dilanjutkan dengan makan bersama di pinggir jalan atau di depan rumah. Saya suka sekali suasananya, ramai namun hangat. Walau tidak kenal, masyarakat Desa Kemiren menyambut kami dengan ramah, bahkan sabar menjawab pertanyaan kami lontarkan. Semoga tahun depan, bisa berjumpa lagi dan menikmati Pecel Pitik, Kuliner khas kemiren dalam acara adat Tumpeng Sewu ini.
Setelah berdoa, Selamat Makan :)
Kalau kalian tertarik gak untuk ikut gabung mengikuti prosesi Adat Tumpeng Sewu di Desa Kemiren?


Desa Wisata Edelweiss Wonikitri, Bunga Edelweiss Tumbuh di Setiap Depan Rumah     Edit


Desa Wisata Edelweiss Wonokitri
Edelweiss, bunga yang dijuluki bunga abadi hanya tumbuh di daerah pegunungan. Untuk bertemu dan melihat bunga ini di banyak tempat harus melakukan pendakian melelahkan, dan melawan hawa-hawa dingin khas pegunungan. Bromo merupakan salah satu tempat dimana tumbuhan Edelweiss tumbuh dan terancam karena dipetik dan diperjualbelikan untuk cinderamata. Desa Wonokitri Kabupaten Pasuruan, salah satu desa yang berada sangat dekat dengan kawasan TN Bromo Tengger Semeru yang kurang lebih mempunyai iklim, karakteristik tanah, ketinggian yang hampir sama, disanalah “Sang Abadi” Edelweiss tumbuh di depan rumah mereka bahkan sampai tumbuh di tepi jalan desa.
Edelweiss di Bromo
Edelweiss tumbuh di Desa wonokitri tidaklah secara alami, namun karena memang sengaja ditumbuhkan. Ditumbuhkan oleh sekelompok masyarakat Desa Wonokitri, Hulun Hyang namanya. Saya bertemu mereka karna diajak kawan saya, Birama yang bertugas mendampingi kolompok masyarakat tersebut. Dari Bromo, kami berangkat menuju Desa Wonokitri melewati Lautan Pasir Bromo dan mengambil arah ke Pasuruan. Sepanjang jalan ke Wonokitri kami disuguhi pemandangan punggung-punggung pegunungan dari Bromo menarik untuk dilihat.

Semai-semai Edelweiss di pot popmie
Sesampainya di Desa Wonokitri, saya bertemu dan berkenalan dengan kelompok masyarakat Hulun Hyang. Ditempat tersebut saya melihat banyak semai dari Edelweiss yang berada di pot-pot bekas popmie. Ini menarik mengingat popmie pasti laku sekali di daerah dingin namun sampah dari wadahnya menjadi masalah karena tidak dapat terurai. Dengan dijadikannya pot minimal bisa mengurangi sampah-sampah wadah popmie.

Awal Edelweiss bisa ada di Desa Wonokitri karena Pihak dari TN Bromo Tengger Semeru mencoba membagikan semai Edelweiss sebagai bentuk tindakan Konservasi Exsitu (konservasi diluar kawasan). Selain itu, adanya Edelweiss di Desa Wonokitri, masyarakat Tengger bisa menggunakan bunganya untuk keperluan keagamaan tanpa harus memetik di kawasan Konservasi Bromo yang jelas-jelas dilarang dilakukan pemetikan tumbuhan apapun.

Penjelasan singkat mengenai pembibitan Edelweiss
Bibit yang diberikan oleh mereka ditanam, lalu Edelweiss berhasil tumbuh akhirnya berbunga. Dari situ mereka mulai memperbanyak dengan mengambil biji atau dilakukan stek tunas. Dikesempatan kali ini saya diajarkan oleh kelompok Hulun Hyang secara singkat cara pembibitan Edelweiss dari mulai mengambil biji edelweiss yang gampang-gampang susah dan perlu ketelitian dalam mengambilnya. Bijinya kecil sekali, warna hitam, bernapas sedikit saja bisa-bisa biji tersebut hilang :D. Biji-biji tersebut lalu disebar di dalam media tanam berupa tanah lalu ditutupi beberapa tabor pasir agar biji yang disebar tidak hilang tertiup angin. Lama-lama biji akan tumbuh menjadi semai, lalu meninggi dan jika sampai ukuran tertentu semai tanaman edekweiss siap dipindah ke pot kecil atau media tanam tersendiri.

Keliling Desa Wisata Edelweis Wonokitri (di foto oleh Birama)
Salah satu rumah yang di depannya tumbuh Pohon Edelweis
Tidak sampai situ saja, Hulun Hyang juga membagikan bibit-bibit Edelweiss kepada penduduk desa Wonokitri untuk menanamnya di depan rumahnya, ditanam dipinggir jalan desa. Dan saya pun melihat sendiri saat berkeliling desa, selalu ada Edelweis yang tumbuh di depan halaman rumah, di pot-pot rumah mereka, bahkan di pinggir-pinggir jalan. Kelompok Hulun Hyang juga mempunyai lahan dimana mereka menanam semai edelweiss dan mengajak saya menanam edelweiss di tanah mereka.

Lahan Edelweiss Kelompok Masyarakat Hulun Hyang
Menanam Edelweiss, biar Edelweiss tetap abadi
Edelweiss di lahan mereka, sudah tumbuh dengan baik, beberapa sudah ada yang berbunga. Lahan ini akan mereka rawat terus hingga akhirnya bisa menjadi hamparan tanaman edelweiss, selanjutnya tempat ini bisa menjadi tempat pembelajaran, pendidikan pembibitan tanaman Edelweiss.

Hidangan khas Masyarakat Tengger
Cabe Gunung
Setelah melakukan penanaman di lahan Edelweiss Kelompok Hulun Hyang, langsung kembali ke desa dan disuguhkan makanan khas Tengger dengan cabai gunung yang super pedas. Bentuknya tidak seperti cabe pada umumnya, malah mirip seperti tomat ceri (tomat kecil). Ada juga makanan yang unik, terbuat dari semacam parutan jagung putih, makanan ini ternyata bisa tahan dua tahun loh, tanpa pengawet. Hanya dengan bermain dengan cara penyimpanannya yaitu selalu diberi air.
Makanan yang tahan sampai 2 tahun lamanya
Banyak yang bilang Edelweiss adalah bunga abadi dan tidak pernah layu. Namun dari hasil jalan-jalan di Desa Wonokitri, saya melihat ada beberapa tanaman edelweiss yang akhirnya layu dan mati. Mungkin saat melihatnya di alam liar, kita tidak beruntung menemuka edelweiss yang layu dan mati. “Edelweiss tidaklah abadi, bisa saja layu dan mati. Karna menanamlah Edelweis bisa abadi. Abadi Hingga Nanti”


Jika kalian berencana piknik ke Gunung Bromo, pulangnya kalian bisa mampir ke Desa Wisata Edelweis Wonokitri, Pasuruan dan bertemu dengan Kelompok Tani Edelweis Hulun Hyang untuk belajar mengenai Tanaman Edelweiss.



Secuil Kenangan Tak Terlupakan di Pasar Wage Kenteng, Kulonprogo     Edit

Ibu-ibu kece penjual Geblek :D
Jogja menyimpan banyak memori memori menarik saat saya merantau ke sana untuk mencari ilmu. Salah satu memori menarik yang tidak terlupakan adalah Pasar Tradisionalnya. Pasar tradisional dimana-mana ada, bahkan untuk kota sekelas Jakarta pun masih ada pasar tradisional yang masih bertahan. Pasar Tradisional di Jogja yang menyimpan memori dan selalu saya sempatkan berkunjung namanya Pasar Kenteng, Sebuah pasar yang letaknya di persawahan daerah pegunungan Menoreh Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta.

Pasar ini letak di Desa Kembang, Kecamatan Nanggulan, Kulonprogo. Letaknya dari kota Jogja tidak terlalu jauh hanya berjarak tempuh sekitar 30 menit dari Tugu Jogja. Pasar Kenteng tidak seperti pasar Beringharjo, Malioboro yang buka setiap hari, hanya buka di hari tertentu yaitu Hari Wage pada penanggalan atau Kalender Jawa. Dan pada hari biasa selain hari Wage tidak ada salah satu penjual pun yang berjualan di pasar itu. Pasar ini buka dari setelah subuh hingga biasanya jam 09.00-10.00 pagi mulai sepi. Pasar ini juga merupakan pasar letaknya strategis karena berada di sekitar jalan menuju beberapa daerah wisata Kulonprogo seperti 6 (enam) AirTerjun di Kecamatan Girimulyo dan wisata alam lainnya.
Rute menuju Pasar Kenteng dari Kota JogjaRutenya cukup gampang kok, kalian hanya tinggal menggunakan kendaraan pribadi atau sewa menuju ke arah barat dari tugu Jogja.  Tugu Jogja  kebarat – Bang Jo Ringroad Barat Demak Ijo lurus Kebarat – Godean – Pasar Godean – Jembatan Sungai Progo – Perempatan Pasar Kenteng Lurus (kea rah pemandangan pegunungan menoreh) – Setelah melewati perempatan tersebut kita akan sampai di Pasar Kenteng.
"ehhh di foto" :D
Lihat kalender, besok Minggu adalah hari Wage, mumpung libur saya memutuskan untuk mampir ke Pasar Kenteng, melihat-lihat sekaligus mencari sarapan dan melanjutkan mandi di air terjun Grojogan Sewu. Saya berangkat dari Jogja jam 5 pagi. Udara saat perjalanan pagi itu cukup menusuk-nusuk kulit mengingat saya tidak memakai jaket hehe. sekitar jam setengah 6 keadaan masih agak gelap, saya mencari spot dulu di daerah persawahan sekitar pasar untuk menikmati matahari terbitnya. Jam segitu pasar sudah ramai, beberapa warga berdatangan dengan sepeda ontelnya, ada juga yang naik mobil angkutan berupa truk kecil dan pick up.
Gunung  Merapi di pagi hari yg tertutup kabut
Ahh matahari terbit begitu indah, gunung Merapi-Merbabu sedang terlihat cantik-cantiknya walau dari kejauhan saja. Kabut tipis seakan menari-nari di sekitar persawahan dan langit sekitar pasar kenteng pagi itu. Sudah agak terang saya pun kembali ke Pasar Kenteng untuk mencari sarapan dan melihat seisi pasar.
es Cendolnya

Tradisional dan Unik, dua kata yang terlintas jika kalian baru pertama kali mengunjungi pasar ini. Barang yang dijualkan bisa dibilang cukup beragam dari pakaian, kain batik, peralatan berladang, Bilik Bambu, Jerami Padi untuk atap, sayur mayur, jajanan pasar, hewan ternak bahkan sampai tukang cukur tradisional dengan menggunakan sepeda bisa ditemukan disini. Jajanan Pasar juga unik-unik seperti Nasi Jagung yang saya sempat coba rasanya cukup manis, pecel, mie letek, cenil, bermacam-macam gorengan, Benguk, Tempe Jadah dan jajanan favorit saya yaitu Geblek. Geblek ini dijual oleh rombongan ibu-ibu kece di blok tengah pasar. Awal pertama beli saya tidak tahu cara melafalkan Geblek yang benar sehingga melafalkan Geblek dengan lafal dan logat Jakarta yang berarti “Bodoh”. Sontak ibu-ibu penjual dan beberapa pengunjung pasar tertawa  dan memberi tau kalau melafalkan Jajanan Geblek nya salah fatal :D. Geblek ini memang mirip cireng berbahan dasar sama namun saat prosesnya berbeda. Yah memang setelah saya cicipi satu Geblek ini rasanya berbeda dengan Cireng :D. Saya membelinya sekitar 7ribu dan mendapatkan Geblek cukup banyak untuk bekal makanan yang dibawa ke air terjun. Melipir ke pinggir jalan raya pasar berjejer mbah-mbah penjual tembakau yang sedang menunggu dan melayani pembelinya dengan ramah. Di dekat situ ada penjual es Cendol yang akhirnya saya pesan untuk melepas dahaga. Es Cendolnya enak dengan pemanis alami yaitu berasal dari Gula Aren. Satu gelas es Cendol dihargai cukup murah yaitu Rp. 3000 saja.

geblek
cenil
Pencukur Tradisional
Melipir ke pojokan sebelah barat pasar, penjualnya berupa penjual bilik bambu dan jerami padi untuk atap rumah. Disekitar situ ada antrian bapak-bapak yang agak ramai, ternyata mereka sedang mengantri tukang cukur keliling yang manggal disitu setiap hari wage. Cukup unik karena tukang cukur tersebut tradisional menggunakan sepeda ontel tua, bangku, cermin, dan sekoper kecil peralatan cukurnya. Saya minta ijin kepada yang dicukur dan bapak pencukur tradisionalnya untuk mengambil gambarnya.

Saling berkomunikasi antar penjual
Lapar rasanya kalau tidak makan nasi, saya mencari warung yang menjajakan makanan hangat, sebenarnya tertarik dengan Soto Ayam yang banyak dijual di pasar tersebut namun berubah ketika melihat seorang mbah-mbah menjual makanan sejenis Tongseng. Yah cocok jugalah untuk menghangatkan perut di pagi hari. Komunikasi disini agak sulit karena saya tidak bisa bahasa Jawa, untungnya ada pengunjung yang sedikit membantu menjadi translator. Dengan kepiawaiannya, mbahnya meracik bumbu, mengiris sayuran dan lain-lainnya untuk semangkuk tongseng yang saya pesan dan rasanya enak.

Setelah kenyang memakan hidangan tongseng, saya meninggalkan pasar tersebut dengan perasaan puas dan terkagum-kagum lalu melanjutkan perjalanan ke arah barat, ke arah pegunungan menoreh menuju air terjun-air terjun kecamatan Girimulyo, Kulonprogo untuk mandi hehe.


Semoga kalian tertarik mengunjungi pasar ini ya, ingat Cuma buka di hari Wage tanggalan Jawa ya :)